PENGGUNAAN
MODEL
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
DENGAN MEDIA KONKRET DALAM PENINGKATAN PEMBELAJARAN
IPA SISWA KELAS III SD
Astini1, Wahyudi2, Chamdani3
1 Mahasiswa PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret
Kampus Kebumen
2 3 Dosen FKIP Universitas Sebelas Maret Kampus
Kebumen
Jalan Kepodang 67 A Telp (0287) 381169 Kebumen 54312
e-mail : astini_76@yahoo.com
Abstract: The Using of Model Contextual
Teaching and Learning (CTL) with Media Concrete in Improving the Science learning
at The third Grade of State Elementary SchoolThe
purposes of this research are to describe the using of model Contextual Teaching
and Learning
(CTL) with
media concrete in improving the science learning about
energy at the third grade of state elementary school, to describe improving the science learning
about energy the using of model Contextual
Teaching and Learning (CTL) with
media concrete at the third grade of state elementary school, and to describe obstacle and solution the using model Contextual Teaching
and Learning
(CTL)
with media concrete in improving science learning about
energy at the third grade of state elementary school. This research was collaborative classroom action
research. The
experiment was conducted in third cycles and each cycle consisted of planning, implementation, observation, and reflection.
The subjects of research were
students at the third grade of elementary school. The
techniques collecting data
used observation,
interviews, and
tests. The
validity of the
data used triangulation. The
result of research could concluded that the using of model Contextual
Teaching and Learning (CTL) with
media concrete could improve
the science learning at the third grade state elementary school.
Keywords:
Contextual Teaching and Learning (CTL), media concrete, Science
learning
Abstrak:
Penggunaan Model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Media Konkret dalam Peningkatan Pembelajaran IPA
Siswa Kelas III SD. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan model Contextual Teaching
and Learning
(CTL) dengan media konkret dalam peningkatan pembelajaran IPA tentang energi siswa kelas III SD, mendeskripsikan
peningkatan pembelajaran IPA tentang
energi dengan penggunaan model Contextual Teaching
and Learning
(CTL)
dengan media konkret siswa kelas III SD, dan mendeskripsikan kendala dan solusi penggunaan model
Contextual
Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dalam peningkatan pembelajaran IPA tentang
energi siswa kelas III SD. Penelitian ini
merupakan penelitian tindakan kelas kolaborasi. Penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus dan setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SD.
Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan tes. Validitas
data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan model Contextual Teaching
and Learning
(CTL) dengan media konkret dapat meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas III SD.
Kata Kunci: Contextual
Teaching and Learning (CTL), media konkret, IPA
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sarana yang penting bagi perkembangan kualitas sumber
daya manusia. Peserta didik sebagai subjek utama dalam pendidikan membutuhkan
pengembangan diri untuk menumbuhkan kreativitas yang dimiliki melalui proses
pembelajaran. Keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran sangat diperlukan
agar pembelajaran lebih efektif. Suasana pembelajaran yang efektif dapat
tercipta apabila guru sebagai pengajar bagi peserta didik mampu menggunakan
model pembelajaran yang sesuai dan inovatif.
Pada kondisi nyata di sekolah, khususnya
siswa kelas III SDN Tambakprogaten,
peneliti melihat model pembelajaran yang digunakan masih konvensional, pada
umumnya guru hanya menjelaskan materi secara teoretis dalam pembelajaran khususnya pelajaran IPA materi tentang energi. Siswa hanya menjadi
objek pembelajaran yang cenderung pasif yang menyebabkan
siswa kurang termotivasi dalam mengikuti pelajaran. Hal tersebut terlihat bahwa
dalam rapor, nilai IPA sering mendapat peringkat yang rendah. Berdasarkan
observasi sementara yang dilakukan peneliti di kelas III SDN Tambakprogaten
pada materi energi yang diambil dari nilai ulangan hasilnya cenderung masih
jauh dari KKM yang seharusnya 66. Sedangkan siswa yang memperoleh nilai
ketuntasan klasikal dengan rentang nilai 66 sampai 100, hanya dicapai oleh 17
(tujuh belas) siswa dari 30 siswa. Ini berarti bahwa siswa yang tuntas hanya
56,67%.
Dalam pembelajaran diperlukan suatu
konsep pemahaman yang tepat. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya dapat
menanamkan konsep yang tepat kepada siswa. Namun, dalam kenyataannya pemahaman
konsep sulit ditanamkan kepada siswa, terutama dalam pembelajaran IPA.
Salah satu
strategi pembelajaran yang melibatkan siswa aktif adalah dengan menggunakan
model Contextual Teaching and Learning (CTL). Model Contextual Teaching and Learning (CTL) dikembangkan untuk mencapai pembelajaran akademik, model Contextual Teaching and Learning (CTL) juga efektif untuk mengembangkan
keterampilan sosial. Hal tersebut
sesuai dengan pendapat Sanjaya bahwa model Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu
pendekatan yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk
dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi
kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan nyata (Sa’ud,
2008:162)
Selain menggunakan model
pembelajaran, untuk meningkatkan
pembelajaran guru juga perlu menggunakan media yang sesuai untuk pembelajaran.
Media digunakan sebagai alat komunikasi agar lebih mengefektifkan proses
pembelajaran. Media pembelajaran sebagai salah
satu sumber belajar yang dapat membantu guru memperkaya pengetahuan peserta
didik. Penggunaan media pembelajaran dapat membantu siswa dalam memahami
pelajaran, memperjelas pelajaran serta mengarahkan perhatian peserta didik
sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung
antara peserta didik dengan lingkungan serta kemungkinan peserta didik untuk
belajar mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya (Padmono,2011).
Masa usia sekolah dasar
(sekitar 6-12 tahun) merupakan tahapan perkembangan penting dan bahkan
fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Jean Piaget
menyatakan taraf berpikir siswa kelas III Sekolah
Dasar (usia 7-11 tahun) termasuk dalam
taraf berpikir konkret-operasional. Dalam taraf ini anak sudah mengenal sesuatu
berdasarkan gambaran nyata atau kenyataan yang dibuat dalam gambar (Monks, Knoers dan Haditono, 2006:
217).
Izzaty, dkk. (2008) menyatakan:
Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua fase
yaitu: (1) masa kelas-kelas rendah Sekolah
Dasar yang berlangsung usia 6/7 tahun-9/10 tahun, biasanya mereka duduk di
kelas 1, 2, dan 3 Sekolah Dasar, (2) masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar, yang berlangsung antara usia 9/10
tahun-12/13 tahun, biasanya mereka duduk di kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar
(hlm. 116).
Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik siswa kelas III SD antara
lain: berusia antara 8 sampai 9 tahun, berada pada masa berkembang secara
holistik, berada pada fase operasional konkret, memiliki rasa ingin tahu yang
kuat, senang bermain dan lebih suka bergembira/riang, suka mengatur dirinya
untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan
usaha-usaha baru, terdorong untuk berprestasi, belajar secara efektif ketika
mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi, belajar dengan cara bekerja,
mengobservasi, berinisiatif, dan mengajar anak-anak lainnya, telah mampu berpikir
logis, fleksibel, mengorganisasi dalam aplikasi terhadap benda konkret, Anak
aktif bergerak dan mempunyai perhatian yang besar pada lingkungannya, tidak
suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan-kegagalan.
Iskandar
(1996) menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam adalah
pengetahuan manusia yang luas yang didapatkan dengan cara observasi dan
eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturan-aturan,
hukum-hukum, prinsip-prinsip, teori-teori dan hipotesis-hipotesis (hlm.2)
Fowler mengungkapkan bahwa IPA
adalah pengetahuan yang bersifat sistematis, dan dirumuskan, yang berkaitan
dengan gejala-gejala kebendaan yang berdasar pada pengamatan dan penyimpulan
dari hal-hal yang umum ke hal-hal yang khusus (Trianto, 2009: 136).
Kata
“Sains” biasa diterjemahkan dengan
Ilmu Pengetahuan Alam yang berasal dari kata Natural science. Natural artinya alamiah dan berhubungan dengan
alam, sedangkan science artinya ilmu
pengetahuan. Jadi Sains secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan
tentang alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.
(Bundu, 2006: 9).
Berdasarkan
pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian IPA yaitu cara mencari tahu
tentang alam secara sistematis yang disusun secara bersistem menurut metode-metode
tertentu untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep,
prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah dan menerangkan
gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan alam dan fisik.
Soekamto mengemukakan bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar
(Trianto, 2009: 22).
Menurut
Suprijono (2009) pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannnya dengan situasi dunia
nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (hlm. 79).
Pembelajaran
kontekstual (Contextual Teaching And
Learning (CTL) menurut Nurhadi
(2003) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antar
materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa (Sugiyanto, 2008: 18)
Menurut
Blanchard (2001) pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan
pengalaman sesunggguhnya (Trianto, 2009: 105).
Berdasarkan ketiga pendapat tersebut,
dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah
suatu proses pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi yang
diajarkan dengan kehidupan siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
dalam konteks pribadi, sosial, dan budaya sehingga siswa benar-benar memperoleh
pemahaman tentang apa yang telah dipelajarinya.
Mengenai pengertiaan media pembelajaran,
Sumiati dan Asra (2009) berpendapat, “Media pembelajaran diartikan sebagai
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar” (hlm.
160).
Media konkret dapat juga diartikan
sebagai media nyata, realita, atau realia. Dalam hal ini digunakan istilah
media konkret. Media konkret sangat tepat digunakan karena memberikan
pengalaman langsung dalam proses pembelajaran sehingga membentuk atau
mengembangkan pengetahuan dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Padmono
yang mengatakan bahwa “menggunakan benda nyata atau mekhluk hidup (real life material) dalam pembelajaran
sering kali paling baik, karena siswa akan dengan tepat memperoleh pengalaman
nyata” (2011: 43).
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media konkret merupakan
benda asli yang masih dalam keadaan utuh, dalam ukuran yang sebenarnya, dan
dikenali sebagai wujud aslinya. Media ini dapat berupa benda mati atau makhluk
hidup.
Penggunakan
model Contextual Teaching and Learning
(CTL) dengan media konkret ini
diharapkan siswa menjadi lebih antusias dalam mengikuti pelajaran serta lebih
mudah dalam memahami konsep pembelajaran IPA. Model Contextual Teaching and Learning (CTL)
dengan media konkret diharapkan membuat siswa belajar secara aktif dan
berpartisipasi dalam kelompok.
Ada lima elemen yang harus
diperhatikan dalam praktek
pembelajaran kontekstual, yaitu: pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), pemerolehan
pengetahuan baru (acquiring knowledge)
dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan
detailnya, pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman
tersebut (applying knowledge),
melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan
tersebut (Trianto, 2009:110-111).
Menurut Sanjaya (2006) Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai suatu pendekatan pembelajaran
memiliki 7 asas. Asas- asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran
dengan menggunakan pedekatan CTL. Seringkali asas ini disebut juga
komponen- komponen CTL (hlm. 264).
Berdasarkan beberapa pendapat, peneliti
mengembangkan langkah-langkah pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL),
sebagai berikut:
1.
Mengembangkan
pemikiran anak akan belajar bermakna (Konstruktivisme).
2.
Melaksanakan
kegiatan inkuiri ( Inkuiri).
3.
Menciptakan
masyarakat belajar (Masyarakat
Belajar).
4.
Mengembangkan
sifat ingin tahu dengan bertanya (Bertanya).
5.
Menghadirkan
model sebagai contoh pembelajaran (Pemodelan).
6.
Melakukan
refleksi (Refleksi).
7.
Melakukan
penilaian yang sebenarnya (Penilaian
sebenarnya).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis
termotivasi untuk mengadakan penelitian
tindakan kelas di SDN
Tambakprogaten kelas III
semester 2 yang berlokasi di
Tambakprogaten dengan judul “Penggunaan Model Contextual Teaching And Learning (CTL) Dengan Media Konkret Dalam
Pembelajaran IPA
Siswa Kelas III
SDN Tambakprogaten
Tahun Ajaran 2012/2013”.
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah
diuraikan di atas, peneliti pada penelitian ini menuliskan rumusan masalah
penelitian yaitu (1) bagaimana langkah-langkah penggunaan model Contextual Teaching
and Learning (CTL) dengan media konkret
dalam peningkatan pembelajaran
IPA tentang energi siswa kelas III SDN
Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013? (2) apakah penggunaan model Contextual
Teaching and Learning
(CTL)
dengan media konkret dapat
meningkatkan pembelajaran IPA tentang energi siswa kelas III SDN
Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013? (3) apakah kendala dan solusi
penggunaan model Contextual Teaching
and Learning (CTL) dengan media konkret dalam peningkatan pembelajaran
IPA
tentang energi siswa kelas III SDN Tambakprogaten
tahun ajaran 2012/2013?
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan
yaitu (1) mendeskripsikan
penggunaan model Contextual Teaching
and Learning (CTL) dengan media konkret
dalam peningkatan pembelajaran
IPA tentang energi siswa kelas III SD N Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013. (2) mendeskripsikan
peningkatan pembelajaran IPA tentang
energi dengan penggunaan model Contextual
Teaching and Learning
(CTL) dengan media konkret siswa kelas III SDN
Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013. (3) mendeskripsikan kendala dan solusi
penggunaan model Contextual Teaching
and Learning (CTL) dengan media konkret dalam peningkatan
pembelajaran IPA tentang energi siswa kelas III SDN Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013.
METODE
PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SDN Tambakprogaten. Penelitian
ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 selama kurang lebih
8 bulan yaitu dari bulan November 2012 sampai bulan Juni 2013. Penelitian ini
menggunakan 3 siklus yang terdiri dari perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi. Sesuai
dengan pendapat Arikunto (2008: 3) bahwa kegiatan dalam
penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui proses pengkajian secara
bertahap yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap pertama perencanaan (planning), kemudian
melaksanakan tindakan (acting), pengamatan (observing) dan kegiatan
refleksi (reflecting). Dalam penelitian ini subjek penelitian yang dikenai
tindakan adalah siswa kelas III SDN Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 30 siswa. Sumber
data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini, yaitu siswa, guru kelas III, observer dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi,
wawancara dan tes hasil belajar. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan teknik.
Analisis data menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan kuantitatif.
Teknik analisis data menggunakan analisis model interaktif yang terdiri dari
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas
diawali dengan observasi terhadap pembelajaran IPA
di kelas III
SDN Tambakprogaten pada pratindakan
untuk mengetahui kondisi awal siswa kelas III.
Berdasarkan observasi awal dan hasil wawancara terhadap guru kelas III
tentang pelaksanaan pembelajaran IPA, diketahui bahwa
pelaksanaan pembelajaran IPA lebih sering
dilakukan oleh guru dengan menggu-nakan pembelajaran yang konvensional. Kondisi belajar
seperti itu juga berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam menyerap materi
baik itu dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor yang berakibat
pada rendahnya hasil belajar siswa.
Berdasarkan data yang diperoleh pada
pelaksanaan observasi guru pada siklus I, terjadi
peningkatan yang signifikan, dari pertemuan 1 mencapai 65,3% ke pertemuan
2 yaitu mencapai 77,7%, dengan rata-rata observasi guru siklus I mencapai 71,5%.
Pada
siklus II terjadi peningkatan, yaitu pada pertemuan 1 mencapai 81,1% dan pada
pertemuan 2 meningkat menjadi 82,8%, rata-rata
observasi guru siklus II mencapai 81,9%. Pada siklus III mengalami penilaian yang
memuaskan bagi peneliti karena target indikator kinerja yang direncanakan dapat
tercapai. Guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunaan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret secara maksimal dalam pembelajaran. Pada pertemuan 1 mencapai 88,3% dan pada pertemuan 2
mencapai 91,1%, rata-rata observasi guru siklus III mencapai 89,7% .
Berikut ini adalah perbandingan
pelaksanaan observasi guru dalam pembelajaran IPA menggunakan model Contextual
Teaching and Learning (CTL)
dengan media konkret pada
tindakan siklus I, siklus II dan siklus III.
Proses belajar
siswa dalam mengikuti pembelajaran menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dalam peningkatan pembelajaran IPA dari
setiap siklus mengalami peningkatan, seiring dengan pemahaman guru terhadap
karakteristik siswa kelas III SD. Pada siklus I terjadi peningkatan yang
signifikan, dari pertemuan 1 mencapai 61,4% ke pertemuan 2 yaitu mencapai 79,9%, rata-rata observasi siswa siklus I mencapai 70,6%. Pada siklus II
terjadi peningkatan, yaitu pertemuan 1
mencapai 74,7% dan pada pertemuan 2 meningkat menjadi 80,3%, rata-rata observasi siswa siklus II mencapai 77,5%. Pada siklus
III mengalami penilaian yang memuaskan bagi peneliti karena target indikator
kinerja yang direncanakan dapat tercapai. Guru dapat melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan langkah-langkah model Contextual
Teaching and Learning (CTL)
dengan media konkret dalam pembelajaran secara maksimal dan efektif, yaitu pertemuan 1 mencapai 86,1% dan pada pertemuan 2
mencapai 90,3%, rata-rata observasi siswa siklus III mencapai 88,2%.
Berikut ini adalah perbandingan
pelaksanaan observasi siswa dalam pembelajaran IPA menggunakan model Contextual
Teaching and Learning (CTL)
dengan media konkret pada
tindakan siklus I, siklus II dan siklus III.
Hasil
belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL)
dengan media konkret dalam peningkatan pembelajaran IPA dari setiap siklus mengalami peningkatan. Pada
siklus I terjadi peningkatan, dari pertemuan 1 mencapai 63,6%
ke pertemuan 2 yaitu mencapai 73%, rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I mencapai
68,3%.
Pada siklus II terjadi peningkatan, yaitu pertemuan 1
mencapai 72,2%
dan pada pertemuan 2 meningkat menjadi 75,9%, rata-rata hasil belajar siswa siklus II mencapai 75,6%. Pada siklus
III mengalami peningkatan, yaitu pertemuan 1 mencapai 88,7%
dan pada pertemuan 2 mencapai 89,5%, rata-rata hasil belajar siswa siklus III mencapai 89,1%.
Penelitian yang sudah dilakukan telah
menemukan langkah-langkah yang tepat dalam pembelajaran IPA kelas III SD N
Tambakprogaten. Berikut
langkah-langkah dalam peningkatan pembelajaran IPA menggunakan
model Contextual Teaching and Learning(CTL) dengan media konkret yaitu (1) kontruktivisme, (2)
inkuiri, (3)
masyarakat belajar, (4) bertanya, (5)
pemodelan, (6)
refleksi, dan (7)
penilaian sebenarnya.
Langkah-langkah pembelajaran
dengan menggunakan
model Contextual Teaching and Learning(CTL) tersebut tidak berbeda jauh dengan langkah-langkah yang
dikemukakan oleh salah satu ahli yang mengemukakan bahwa langkah
model Contextual Teaching and Learning(CTL) meliputi
pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating
knowledge), pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan
dulu, kemudian memperhatikan detailnya, pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), mempraktekkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying
knowledge), melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi
pengembangan pengetahuan tersebut (Trianto, 2009:110-111).
Kendala yang dihadapi yaitu (1) guru kurang maksimal menggunaan model Contextual Teaching and Learning
(CTL) dengan media konkret, (2) guru tidak memberikan penguatan
kepada siswa, (3)
guru cepat menjelaskan materi, (4)
siswa belum terbiasa berkelompok, (5) siswa
bermain ketika pembelajaran, sedangkan solusinya yaitu (1) peneliti dan guru berkoordinasi
lebih lanjut sebelum melakukan tindakan selanjutnya, (2) guru memberi penguatan dan
penghargaan pada siswa, (3)
guru memperjelas materi, (4)
membiaskan siswa belajar berkelompok, (5) menegur siswa yang gaduh.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian
tindakan kelas yang
telah dilaksanakan dengan menggunakan
model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dalam peningkatan pembelajaran IPA tentang energi siswa
kelas III SDN Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013, dapat diambil kesimpulan,
pertama Langkah-langkah model
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dalam peningkatan pembelajaran IPA tentang energi siswa
kelas III SDN Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013 menggunakan langkah yaitu (1)
mengembangkan pemikiran anak akan belajar bermakna (kontruktivisme), (2) melaksanakan kegiatan inkuiri (inkuiri), (3) menciptakan masyarakat belajar (masyarakat belajar), (4) mengembangkan sifat ingin tahu dengan bertanya (bertanya), (5) menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran 9 pemodelan), (6) melakukan refleksi (refleksi), dan (7) melakukan penilaian yang sebenarnya (penilaian sebenarnya). Kedua, Penggunaan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dapat
meningkatkan pembelajaran IPA tentang
energi siswa kelas III SDN Tambakprogaten tahun ajaran 2012/2013. Ketiga,
Kendala penggunaan model
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dalam
pembelajaran IPA tentang energi siswa kelas III SDN Tambakprogaten tahun
ajaran 2012/2013 adalah (1)
guru kurang maksimal dalam penggunaan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret, (2) guru tidak
memberikan penguatan kepada siswa, (3) guru cepat
menjelaskan materi, (4) siswa belum terbiasa dalam
berkelompok,(5)
siswa bermain ketika pembelajaran. Adapun solusinya
penggunaan model
Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media konkret dalam
pembelajaran IPA tentang energi siswa kelas III SDN Tambakprogaten tahun
ajaran 2012/2013 adalah (1)
peneliti dan guru berkoordinasi lebih lanjut sebelum melakukan tindakan
selanjutnya, (2)
guru memberi penguatan dan penghargaan pada siswa,
(3)
guru memperjelas materi, (4) membiaskan
siswa dengan belajar secara berkelompok, (5)
menegur siswa yang gaduh.
Berdasarkan
pembahasan hasil pe-nelitian dan kesimpulan maka ada beberapa saran
membangun yang peneliti sampaikan kepada siswa, guru, sekolah, dan peneliti berikutnya. Bagi guru, disarankan untuk
memperhatikan penguatan untuk diberikan kepada siswa agar
siswa lebih termotivasi, dan juga memperhatikan aktifitas belajar siswa agar
siswa bekerjasama
dalam diskusi supaya dapat meningkat prestasinya. Bagi siswa, disarankan untuk
lebih fokus dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. selain itu aktifitas belajar
siswa juga diharapkan lebih dikendalikan agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran
dapat berjalan dengan lebih kondusif. Bagi sekolah, meningkatkan
jumlah media pelajaran yang tersedia sehingga memudahkan guru dalam memberi
pengalaman belajar pada siswa. Selain itu sekolah juga disarankan untuk
mensosialisasikan penggunaan model Contextual Teaching and Learning (CTL)
karena terbukti dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Bagi peneliti berikutnya, Penelitian ini dapat
dikembangkan tidak hanya pada mata pelajaran IPA dan hanya pada kelas III saja
tetapi dapat diterapkan pada mata pelajaran lain.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
S., Suhardjono, & Supardi. (2008). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Bumi Aksara.
Bundu, Patta. (2006). Penilaian
keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dakam Pembelajaran sains Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
Iskandar,
S.M. (1996). Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam. Bandung: CV. Maulana.
Izzaty,R.E., Suardiman, S.P., Ayriza,Y., Purwandari,
Hiryanto, & Kusmaryani, R.E. (2008). Perkembangan
Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.
Monks,
Knoers, & Haditono, S. R. (2006). Psikologi Perkembangan Pengantar dalam berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Padmono. (2011). Media
Pembelajaran. Surakarta: FKIP UNS.
Sanjaya,
W. (2006). Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada Media
Group.
Sa’ud,
U.S. (2008). Inovasi Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyanto.
(2008). Model-model Pembelajaran Inovatif.
Surakarta: UNS.
Sumiati
& Asra. (2009). Metode Pembelajaran.
Bandung: CV Wacana Prima.
Suprijono,
A. (2009). Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Surabaya:
Pustaka Pelajar.
Trianto.
(2009). Mendesain Model- Model
Pembelajaran Inovatif- Progresif. Surabaya: Kencana Prenada Media Group.
Dikutip :https://www.google.com/search?q=jurnal+penggunaan+sumber+media+dalam+pembelajaran+filetype%3Adoc&ie=utf-8&oe=utf-8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar